MAN 1 Jepara

Madrasah Kebanggaanku

Proses Pengembangan Karir

Pengembangan karir adalah proses yang mengasyikkan. Jalur pengembangan karir Anda adalah kemajuan yang terdiri dari pengalaman sekolah Anda, baik di dalam maupun di luar kelas, yang memungkinkan Anda untuk memutuskan siapa Anda, ingin menjadi siapa, dan karir pilihan apa yang paling sesuai dengan kebutuhan pribadi Anda.

Pohon Karier

Pohon karir merupakan alat atau media untuk membantu penyampaian materi tentang bimbingan karir untuk memilih, menyiapkan diri, mencari, dan menyesuaikan diri terhadap karir yang sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya sehingga dapat mengembangkan dirinya secara optimal sehingga dapat menemukan karir yang efektif.

Personality (Kepribadian)

Kepribadian mengacu pada perbedaan individu dalam pola karakteristik berpikir, merasa dan berperilaku. Studi tentang kepribadian berfokus pada dua bidang luas: Pertama, memahami perbedaan individu dalam karakteristik kepribadian tertentu, seperti sifat mudah bergaul atau mudah tersinggung.

Rabu, 17 Februari 2021

TEORI DAN TEKNIK KONSELI

 

 

A.    TEORI KONSELING

Konseling yang ditemukan pada abad ke-20 bisa muncul karena tuntutan kompleksitas dari kehidupan masyarakat. Dalam kehidupan, semua manusia pastinya mengalami peristiwa dan juga situasi yang menyebabkan masalah yang terkadang tidak bisa diatas dan bisa menimbulkan tanda tanda stress.

Alternatif yang akan digunakan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dibicarakan bersama dengan keluarga, ahli agama, sahabat dan juga guru. Namun sayangnya, tidak semua orang tersebut bisa membantu dalam menyelesaikan masalah sehingga konseling menjadi pilihan terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bimbingan konseling di Indonesia sendiri sudah masuk dalam kurikulum sekolah mulai tahun 1965 dimana bimbingan dan konseling tidak terpisahkan dari keseluruhan sistem pendidikan di sekolah.

Dalam hal ini juga dibutuhkan teori psikologi dalam bimbingan konseling yang akan dipakai sebagai acuan untuk proses memberikan bimbingan yang secara lengkap akan kami bahas dalam artikel berikut ini.

1.      Teori Psikoanalisis

Teori psikoanalisis adalah teori kepribadian yang komperhensif mengenai 3 pokok pembahasan berupa struktur kepribadian, perkembangan kepribadian dan juga dinamika kepribadian. Psikoanalisis yang juga sering disebut dengan Psikologi Dalam ini berpendapat bahwa macam macam tingkah laku dalam psikologi yang dilakukan manusia bersumber dari dorongan yang letaknya jauh di dalam ketidaksadaran. Sedangkan menurut Corey pada tahun 2009, psikoanalisis adalah teori pertama yang ada dalam psikologi terutama yag berkaitan dengan gangguan kepribadian dan juga perilaku neurotik.

 

Tujuan dari psikoanalisis dalam pola psikoanalisis adalah membuat kesadaran atau conscious akan hal hal yang tidak disadari atau unconscious konseli. Sementara tujuan khususnya adalah untuk membentuk kembali struktur kepribadian individu lewat pengutaraan hal hal yang tidak disadari dengan menitikberatkan pada usaha konselor supaya seseorang bisa menghayati, memahami dan juga mengenal akan pengalaman masa kecil tersebut akan ditata, dianalisis, didiskusikan dan juga ditafsirkan untuk tujuan supaya kepribadian klien tersebut bisa direkonstruksi.

2.      Teori Analisis Transaksional

Teori analisis transaksional atau transactional analysis adalah teori yang memakai setting setiap individu atau kelompok dengan melibatkan kontrak yang dikembangkan konseli dengan cara menyebutkan secara jelas mengenai arah dan tujuan dari proses terapi tersebut.

 

 

Pengambilan fokus di tahap awal akan dilakukan oleh konseli dengan maksud untuk menekankan pada kapasitas konseli supaya bisa membuat keputusan yang baru sekaligus sebagai cara menghilangkan kecemasan.

Dalam analisis transaksional ini akan lebih menekankan pada aspek kognitif, rasional dan juga tingkah laku dari kepribadian. Dengan ini, analisis transaksional bisa diartikan sebagai metode yang dipakai untuk mempelajari interaksi antar individu dan juga pengaruh yang bersifat timbal balik yang menjadi gambaran dari kepribadian seseorang.

Tujuan utama dari teori analisis transaksional ini adalah untuk membantu konseli dalam membuat keputusan baru mengenai tingkah laku saat ini dan juga arah tujuan hidup. Individu nantinya akan mendapat kesadaran mengenai kebebasan yang terkekang karena keputusan awal mengenai posisi hidup kemudian bisa belajar menentukan arah hidupnya semakin baik.

3.      Teori Behavioral

Behaviorisme merupakan aliran dalam cabang cabang psikologi yang dibuat oleh John B. Watson tahun 1913 dan kemudian digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Seperti psikoanalisa, behaviorisme adalah aliran yang revolusioner, berpengaruh , kuat dan mempunyai akar sejarah mendalam.

Beberapa filsuf dan ilmuwan sebelum Watson juga membentuk gagasan tentang pendekatan objektif dalam mempelajari manusia atas dasar pandangan yang mekanistik dan juga materialistis yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Behaviorisme melihat jika saat manusia dilahirkan, pada dasarnya tidak mempunyai macam macam bakat apapun dan manusia nantinya akan berkembang atas dasar stimulus yang diterima dari lingkungan.

Tujuan umum dari terapi tingkah laku atau behavioral ini adalah untuk menciptakan kondisi baru sebagai proses belajar dan menggunakan segenap tingkah laku yang akan dipelajari.

4.      Teori Rational Emotive Behavior Therapy

Teori Rational Emotive Behavior Therapy atau REBT merupakan teori belajar kognitif behavior yang lebih menekankan pada keterkaitan antar perasaan, tingkah laku dan juga pikiran.

Teori ini dikembangkan oleh Albert Ellis lewat beberapa tahapan dan menggunakan pandangan dasar jika manusia merupakan individu yang mempunyai tendensi untuk berpikir irasional yang bisa didapat lewat belajar sosial. Selain itu, individu juga mempunyai kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir secara rasional.

Pendekatan ini dilakukan untuk membuat individu mengubah pikiran irasional menjadi rasional dengan menggunakan teori GABCDE.

5.      Teori Realitas

Teori realitas merupakan jenis terapi dalam psikologi merupakan teori yang dikembangkan oleh William Glasser yang merupakan seorang psikolog asal California. Ciri dari teori ini adalah tidak hanya terpaku pada kejadian masa lalu namun mendorong konseli untuk bisa menghadapi realistas.

Dalam teori ini tidak memberikan perhatian pada motif bawah sadar seperti dalam psikoanalisis namun lebih menekankan pada perubahan tingkah laku agar bisa lebih tanggung jawab dalam menyusun dan melakukan tindakan.

6.      Teori Eksitensial Humanistik

Teori ini pada dasarnya percaya jika setiap individu mempunyai potensi aktif dalam memilih dan membuat keputusan untuk diri sendiri dan lingkungan. Dalam teori ini lebih menekankan pada kebebasan yang bertanggung jawab sehingga individu akan diberi kebebasan secara luas dalam melakukan setiap tindakan asal berani menanggung risikonya dan terhindar dari perilaku abnormal.

Tujuan dari eksistensial humanistik ini adalah memberikan kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan juga pertumbuhan klien, menghapus segala penghambat aktualisasi potensi diri pribadi sehingga membantu klien untuk menemukan dan memakai kebebasan memilih sekaligus memperluas kesadaran diri dan juga membantu klien agar secara bebas bertanggung jawab mengenai arah kehidupan diri sendiri.

7.      Teori Client Centered

Teori Client Centered atau teori terapi yang berpusat pada klien ini sering juga disebut dengan psikoterapi non directive yakni cara perawatabn psikis yang dilakukan dengan cara berkomunikasi antara clien dan konselor supaya bisa mendapat gambaran serasi antara ideal self atau diri klien yang ideal dengan acual self atau diri klien yang sesuai dengan kenyataan.

Tujuan dari konseling person centered adalah untuk membantu konseli dalam menemukan konsep diri dalam psikologis yang jauh lebih positif lewat komunikasi dalam konseling dimana nantinya konselor akan memposisikan konseli sebagai orang yang penting, berharga sekaligus memiliki potensi positif dengan penerimaan tanpa syarat yakni menerima konseli secara apa adanya.

8.      Teori Gestalt

Teori Gestalt adalah terapi eksistensial yang memiliki landasan premis jika setiap individu harus bisa menemukan cara sendiri dalam hidup sekaligus bertanggung jawab apabila ingin mencapai tingkat kedewasaan sekaligus menemukan cara mengatasi stres berat dari masalah.

Dalam teori yang juga disebut dengan experiental ini konseli akan merasakan yang dirasakan, pikiran dan apa yang dilakukan saat konseli sedang berinteraksi dengan orang lain.

Tujuan dari konseling Gestalt ini adalah untuk menciptakan eksperimen yang akan membantu konseli untuk mencapai kesadaran atas apa yang dilakukan dan bagaimana dilakukan. Kesadaran yang termasuk diantaranya adalah insight, pengetahuan tentang lingkungan, penerimaan diri dan juga tanggung jawab terhadap pilihan.

Selain itu, teori ini juga bertujuan untuk membuat klien mampu melakukan kontak dengan orang lain dan juga memiliki kemampuan untuk menerima, mengenali dan berekspresi tentang perasaan, pikiran serta keyakinan diri.

9.      Teori Elektik

Teori Elektik atau disebut juga dengan konseling integratif merupakan gabungan dari teori konseling dengan pertimbangan mengenai kelebihan dan kekurangan dalam setiap teori. Menurut Latipun pada tahun 2001, teori ini merupakan teori untuk menyelidiki banyak sistem metode dan teori yang bertujuan supaya bisa paham dan menerapkannya dalam situasi konseling.

Teori eklektik ini memandang jika kepribadian manusia adalah bagian yang terintegritasi, mengalami perubahan dinamis dan juga memiliki macam macam sifat manusia. Setiap individu dipandang sebagai organisme yang mengalami integritas atau ada dalam perkembangan secara continue.

Thorne menyatakan jika tingkah laku manusia akan selalu berubah dan dinamakan dengan hukum perubahan universal dimana tingkah laku sendiri merupakan hasil dari statur organisme tidak statis, status situasi pada perubahan lingkungan interpersoinal dan juga situasi atau kondisi yang umum.

10.  Teori Trait dan Factor

Teori yang dipelopori Wiliamson ini memiliki pandangan terapi perilaku kognitif yang rasional dengan memakai pendekatan untuk menenangkan klien yang kesulitan memakai cara logis rasional untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam teori ini konselor akan diposisikan sebagai pihak aktif untuk membantu klien supaya bisa mengarahkan perilaku pada pemecahan dari masalah.

 

Menurut teori ini, setiap individu memiliki sistem sifat dengan arti antara satu faktor dengan lainnya akan saling berhubungan. Faktor yang muncul dalam individu ini bisa berupa pembawaan minat dan sikap dari diri sendiri maupun lingkungan.

Teori psikologi dalam bimbingan konseling dengan teori pendekatan pengembangan klasik ini akhirnya memunculkan berbagai teori konseling yang sangat dibutuhkan para konselor sebab teori konseling akan memberikan landasan pemahaman mengenai proses konseling tersebut dalam membantu setiap klien untuk bisa keluar dari setiap masalahnya.

B.     Teknik konseling

Menurut Makarao (2010), teknik-teknik konseling adalah cara yang digunakan oleh konselor dalam hubungan konseling untuk membantu klien berkembang potensinya serta mampu mengatasi masalah yang dihadapi dengan mempertimbangkan kondisi-kondisi 12 lingkungan yakni: nilai-nilai sosial, budaya, dan agama. Konselor mutlak harus menguasai teknik konseling, karena penguasaan teknik konseling yang baik merupakan kunci keberhasilan untuk mencapai tujuan konseling.

Ada beberapa teknik konseling menurut Makarao (2010) antara lain sebagai berikut :

1. Perilaku Attending

Perilaku attending dapat dilakukan dengan menghampiri klien, kontak mata, bahasa badan, bahasa lisan. Suatu attending yang baik dapat meningkatkan harga diri klien, menciptakan suasana yang aman, dan mempermudah ekspresi perasaan klien dengan bebas.

2. Empati

Empati adalah kemampuan konselor untuk merasakan apa yang dirasakan klien, merasa dan berpikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien. Pada prinsipnya empati adalah merasakan apa yang sedang dirasakan klien, tetapi petugas kesehatan tidak larut dalam perasaan klien. Empati dilakukan bersamaan dengan “attending”,tanpa perilaku attending tidak akan nada empati.

3. Refleksi

Refleksi adalah keterampilan konselor untuk memantulkan kembali kepada klien tentang perasaan, pikiran, dan pengalaman klien sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku verbal dan nonverbal.

4. Eksplorasi

Eksplorasi adalah keterampilan konselor untuk menggali perasaan, pengalaman, dan pikiran klien. Hal ini penting, karena klien seringnya menutup diri.

5. Menangkap Pesan Utama (Paraphrasing)

Konselor harus dapat menangkap pesan utamanya, dan menyatakannya secara sederhana. Paraphrasing yang baik adalah menyatakan kembali pesan utama klien secara seksama dengan kalimat yang mudah dan sederhana.

6. Bertanya untuk Membuka Percakapan (Open Question)

Kebanyakan konselor sulit untuk membuka percakapan dengan klien. Hal ini dikarenakan, konselor merasa sulit menduga apa yang dipikirkan klien, sehingga sulit untuk mengajukan pertanyaan yang pas. Sebaiknya tidak menggunakan kata-kata mengapa? dan apa sebabnya? Hal ini akan menyulitkan klien, dikarenakan klien tidak tahu atau sengaja ditutupi.

7. Bertanya Tertutup (Close Question)

Bentuk-bentuk pertanyaan tertutup, baik diajukan ke klien, agar klien dapat menjawab dengan mudah misalnya: Ya, Tidak.

8. Dorongan Minimal (Minimal Encouragement)

Dorongan minimal adalah suatu dorongan langsung dan singkat terhadap apa yang telah dikatakan klien, dan memberikan dorongan singkat seperti: oh, ya, lalu. Seorang konselor harus 14 dapat mengupayakan, agar kliennya terlibat dalam pembicaraan dan mau terbuka tentang dirinya (Self Disclosing).

9. Interpretasi

Dalam interpretasi ini, upaya konselor untuk mengulas pemikiran, perasaan, perilaku serta pengalaman klien dengan merujuk pada teori-teori. Tujuan interpretasi ini adalah: memberikan rujukan, pandangan, perilaku klien, agar klien mengerti dan berubah melalui pemahaman dari hasil rujukan baru tersebut.

10. Mengarahkan (Directing)

Untuk mengajak klien berpartisipasi secara penuh di dalam proses konseling, perlu ada ajakan dan arahan dari konselor. Keterampilan konseling yang mengatakan kepada klien, agar dia berbuat sesuatu, mengarahkannya agar melakukan sesuatu.

11. Menyimpulkan Sementara (Summarizing)

Menyimpulkan sementara perlu dilakukan, agar pembicaraan makin jelas. Setiap periode waktu tertentu, konselor bersama klien perlu menyimpulkan hasil pembicaraan. Untuk itu sangat diperlukan kebersamaan, agar klien merasa bertanggung jawab atas dirinya sendiri, sehingga mampu mengambil keputusan pemecahan masalah yang dihadapinya, konselor hanyalah membantu. Berdasarkan hal tersebut di atas, maka tujuan dari menyimpulkan sementara adalah sebagai berikut: memberi feedback, menyimpulkan, meningkatkan kualitas diskusi.

12. Memimpin (Leading)

Sebagai konselor harus mampu memimpin arah pembicaraan, agar tercapai tujuan konseling. Tujuannya adalah: agar klien tidak menyimpang dari fokus pembicaraan.

13. Fokus

Seorang konselor yang efektif harus mampu membuat fokus melalui perhatiannya yang terseleksi dari pembicaraan dengan klien. Fokus membuat klien untuk memusatkan perhatian pada pokok pembicaraan.

14. Konfrontasi

Konfrontasi adalah suatu teknik konseling yang menantang klien untuk melihat adanya diskrepansi atau inkonsistensi antar perkataan dengan bahasa badan, ide awal dengan ide berikutnya, senyum dengan kepedihan.

15. Menjernihkan (Clarifying)

Menjernihkan adalah suatu keterampilan untuk menjernihkan ucapan-ucapan klien yang samar-samar, kurang jelas, dan agak meragukan. Teknik ini mempunyai tujuan: agar klien dapat menyatakan pesannya dengan jelas, agar klien dapat menjelaskan, mengulang, mengilustrasikan perasaannya.

16. Memudahkan (Facilitating)

Memudahkan adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien dengan mudah berbicara dengan konselor dan menyatakan perasaan, pikiran, dan pengalamannya secara bebas.

17. Diam

Banyak orang bertanya tentang kedudukan diam dalam kerangka proses konseling. Sebenarnya diam adalah sangat penting digabung dengan teknik attending. Diam bukan berarti tidak ada komunikasi, akan tetapi tetap ada, yaitu melalui perilaku nonverbal. Yang paling ideal, diam itu paling lama 5-10 detik, dan selebihnya dapat diganti dengan dorongan minimal. Akan tetapi, jika konselor yang menunggu klien yang sedang berpikir, mungkin diamnya bisa lebih dari 5 detik, hal ini relatif, tergantung dari feeling konselor.

18. Mengambil Inisiatif

Mengambil inisiatif perlu dilakukan konselor manakala klien kurang bersemangat untuk berbicara, sering diam dan kurang partisipasif. Konselor harus dapat mengucapkan kata-kata yang mengajak klien untuk berinisiatif dalam menuntaskan diskusi.

19. Memberi Nasihat

Pemberian nasihat sebaiknya dilakukan jika klien memintanya. Walaupun demikian, konselor tetap harus mempertimbangkannya. Apakah pantas untuk memberi nasihat atau tidak. Sebab dalam memberi nasihat tetap dijaga agar tujuan konseling yakni “kemandirian klien” harus tetap tercapai.

20. Pemberian Informasi

Dalam hal informasi yang diminta klien, sama halnya dengan pemberian nasihat. Selanjutnya jika konselor tidak memiliki informasi tersebut, sebaiknya dengan jujur katakana bahwa tidak mengetahuinya. Akan tetapi, jika konselor mengetahui tentang informasi tersebut, sebaiknya disampaikan, agar klien mengetahui informasi tersebut.

21. Merencanakan

Menjelang akhir sesi konseling, seorang konselor harus dapat membantu klien untuk dapat membuat rencana berupa suatu program untuk action, perbuatan nyata yang produktif bagi kemajuan dirinya. Suatu rencana yang baik adalah hasil kerjasama antara konselor dengan klien.

22. Menyimpulkan

Pada akhir sesi konseling, konselor membantu klien untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang didapat, menyangkut halhal sebagai berikut: bagaimana keadaan perasaan klien saat ini terutama mengenai kecemasan, memantapkan rencana klien, pokok-pokok yang akan dibicarakan selanjutnya pada sesi berikut.